Berbicara masalah jodoh, adalah berbicara mengenai pemahaman tentang sesuatu yang sifatnya misterius namun nyata, benar dan logis penjabarannya. Sebuah gagasan dari Seorang bunda Rabi'ah Al Adawiyah, SH. Penggagas sekolah Pra Nikah (SPN) Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) Benih.
Bagaimana memahami jodoh, dalam perspektif yang benar ?
Mengenai jodoh, beberapa hal harus kita pahami.
1. Jodoh ada di tangan Allah seperti halnya ketentuan mengenai rezeki dan umur. Siapa, kapan, bagaimana bertemu, ada dalam kuasa Allah. Tak perlu risau, jodoh masing-masing orang telah disiapkan oleh Allah. Sehingga yang perlu dilakukan adalah menjemputnya.
2. Yang tersirat dari kata jodoh adalah keniscayaan adanya perbedaan. Dalam banyak hal, Allah memberikan perumpamaan mengenai jodoh/pasangan. Siang berpasangan dengan malam, barat berpasangan denan timur, laki-laki berpasangan dengan perempuan. Berjodoh berarti berkumpulnya dua orang yang berbeda.
Baru kemudian dalam interaksi setelah pernikahan muncul persamaan. Hal ini memerlukan pemahaman dan kesiapan, agar saat jodoh datang dapat tercipta keharmonisan pada kehidupan selanjutnya.
Bagaimana cara menjemput Jodoh dari tangan Allah
Ya karena dalam kekuasaan Allah maka yang pertama diketuk adalah keridhaan Allah. Meski jodoh adalah bagian dari qada dan qadar Allah, namun Islam bukan agama fatalis (meniadakan harapan dan usaha)
Dalam konsep keimanan, Iman kepada qada dan qadar ada diurutan terakhir. Ini menyiratkan bahwa kita memiliki kesempatan untuk mengusahakan setiap hal dalam hidup kita. Tentu saja dengan panduan 5 konsep keimanan diawalnya. Saat kita telah selesai dengan kelima konsep itu, maka insyaAllah kita pasti akan dapat menerima konsep qada dan qadar dengan legowo.
Mempersiapkan diri untuk menikah juga bisa menjadi sarana menjemput jodoh dari Allah.
Dalam masa menunggu jodoh kita jadikan masa beramal dan belajar lebih banyak. Menjadi lajang produktif bisa jadi menjadi penilaian dari Allah. Sebagai gaya tarik. Masa menunggu adalah masa memantaskan diri bagi jodoh yang baik itu. Allah tahu sejauh mana kesungguhan dan kesiapan kita.
Lalu bagaimana dengan dengan bujang yang tak jua bertemu jodoh ?
1. Harus lebih banyak bersabar tetapi "jernih", husnuzon, dan tawakal pada Allah. Tetapkan standar pasangan, berdasar pengenalan pada konsep diri. Dengan begini akan ditemukan standar calon yang kita butuhkan, bukan sekedar yang kita inginkan. Ini yang membedakan antara orang yang siap menikah dengan yang ingin menikah. Bisa jadi belum dipertemukan jodoh, karena sejatinya belum siap menikah. Dan Allah tahu itu.
Orang yang ingin menikah, biasanya standar calon masih lebih di dominasi hawa nafsu, meterialis, fisik dan lain-lain. Berbeda saat seorang siap menikah, maka standar calon juga pasti sifatnya jangka panjang.
2. Komitmenlah pada standar itu, lalu maksimalkan ikhtiar dan permohonan.
Pada beberapa kasus ada yang menurunkan standar (baik calon ataupun kapasitas diri) karena tak jua ketemu jodoh. Bagi kaum muslimah, memendekkan jilbab dan memodifikasi jilbab, berdandan menor, dan sebagainya. Apakah bisa jadi jalan bertemu jodoh? mungkin iya, tetapi dia telah kehilangan sekian masa proses penjagaan dirinya, yang bisa jadi akan berpengaruh pada kualitas jodoh yang (seharusnya) dia dapat.
Bisa juga, bukan standar yang diturunkan, tetapi ikhtiar yang ditingkatkan. Pasrahkan jodoh ini pada Allah, letakkan, bebaskan diri lakukan semua aktivitas kebaikan sebanyak-banyaknya.
Berinvestasilah dengan kapasitas diri, lalu menepi dalam doa dan tawakal. saat sumeleh insyaAllah jodoh datang. Barokallah. Hadilla edisi 92/Feb 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar